Sepulangnya sekolah dari Amerika pada Tahun 1957, The Joe Gwan merasa gundah sekaligus merasa prihatin melihat perkembangan pendidikan di Temanggung. Banyak lulusan SMP yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Bukan kaarena tidak mau, tetapi karena memang tidak ada SMA di Temanggung. Kalau mau meneruskan sekolah harus ke Jogjakarta, atau paling dekat ke Magelang. The Joe Gwan adalah pengusaha sekaligus pegawai Pabrik Rokok Gentong Gotri. Kebetulan saat itu dia menjadi ketua Perkumpulan Anak Muda Tionghoa Ching Hien Hui dan dengan bendahara Lie Kok Swan (Kuswanto). Dari perkumpulan itu keprihatinan yang kemudian diwujudkan gagasan mendirikan sekolah SMA. Awal mula rembug di perkumpulan hanya akan mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak Tionghoa. Tetapi kemudian gagasan berkembang saat pengurus perkumpulan bertemu dengan Soekarjo yang saat itu menjabat sebagai PDM (Perwira Daerah Militer) dan Drs. Soekarjo Subadi (Kepala Polisi Kabupaten Temanggung) untuk sekalian mendirikan sekolah untuk umum.

Akhirnya pada Tahun 1958 dibentuklah Panitia Pembukaan Sekolah Partikelir untuk SMA, berdasarkan hal tersebut kemudian pada 1 Agustus 1958 berdiri SMA Partikelir “Sasangka Handardani”, dimana The Joe Gwan dipilih menjadi kepala sekolah pertama yang saat itu nama jabatnya adalah direktur. Sekolah tersebut didirikan di depan Kantor Polisi Kabupaten Temanggung (Polres Temanggung) dengan tanah seluas 1600 m2. Pertama hanya dibagun tiga ruang kelas dan bentuk bangunan yang sangat sederhana, yaitu dinding dari gedheg dan lantai tanah. Perkembangan SMA Partikelir “Sasangka Handardani” maju pesat baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sekolah yang lama sudah tidak memadai lagi, meskipun sudah tersebar di tiga lokasi, yakni di depan polres, di alun-alun dan di RPCM, dengan tersebarnya lokasi tersebut membuat sistem pengajaran kurang efisien. Maschun Sofwan, Bupati Temanggun saat itu rupanya juga prihatin melihat keadaan itu. Harapan besar masyarakat dan dunia pendidikan itu kemudian ditangkap. Maka Maschun bekerja sama dengan Dinas P&K berupaya untuk membangun gedung sekolah yang memadai yang bisa menampung seluruh kegiatan sekolah. Setelah berembug sana-sini akhirnya dipilihlah lokasi di Jalan Kartini. Pertimbangan pemilihan lokasi tersebut salah satunya adalah tempatnya tidak ramai tetapi tetap dekat dengan jalan protokol. Memasuki ajaran baru Januari Tahun 1973, maka secara resmi SMA Negeri Temanggung telah menempati gedung baru, gedung permanen yang diimpi-impikan oleh siswa, guru maupun masyarakat Temanggung.